Deru mesin alat berat kini menjadi suara latar yang menggantikan gemericik air di kawasan Sungai Paceda. Kehadiran investor pertambangan yang digadang-gadang membawa kemajuan ekonomi, justru menyisakan luka mendalam bagi ekosistem lokal.

Sungai Paceda yang dulunya dikenal bersih, jernih, dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, kini kondisinya kian memprihatinkan dan mulai mengalami kerusakan fisik maupun kualitas air.

​Bagi masyarakat sekitar, Sungai Paceda bukan sekadar aliran air. Ia adalah sumber air bersih utama yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari hingga mendukung mata pencaharian tradisional. Namun, sejak aktivitas pertambangan mulai merambah kawasan tersebut, keindahan dan kebersihan sungai itu seolah sirna tertutup material sedimen dan ancaman polusi.

​Siapa yang Bertanggung Jawab?
​Kerusakan ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat, "Ini salah siapa?"
​Apakah ini murni kelalaian pihak investor yang tidak menerapkan standar operasional ramah lingkungan? Ataukah lemahnya pengawasan dari pemerintah daerah dalam memberikan izin tanpa kajian dampak lingkungan (AMDAL) yang ketat?

​"Sungai ini adalah warisan alam yang seharusnya dilindungi, bukan dikorbankan demi keuntungan sesaat. Kehadiran investor seharusnya membawa kesejahteraan bagi rakyat, bukan malah merusak sumber air yang sangat kami butuhkan," ujar Ridwan Nau, seorang  pencinta lingkungan setempat.

​Perlunya Perlindungan Nyata
​Masyarakat menuntut adanya langkah konkret untuk menyelamatkan Sungai Paceda sebelum kerusakan menjadi permanen. Perlindungan terhadap sumber air bersih merupakan hak asasi manusia yang tidak bisa ditawar.

​Menurut para aktivis lingkungan, ada beberapa poin mendesak yang harus segera dilakukan, 

​Audit Lingkungan, Pemerintah harus segera mengevaluasi aktivitas pertambangan di sekitar sungai.

​Pemulihan Ekosistem, Pihak investor wajib melakukan normalisasi dan rehabilitasi terhadap bagian sungai yang telah terdampak.

​Pengawasan Ketat, Penegakan hukum bagi setiap pelanggaran lingkungan harus dilakukan tanpa pandang bulu.

​"Alam tidak bisa bersuara, maka kitalah yang harus menjadi suaranya. Menjaga Sungai Paceda adalah menjaga masa depan generasi kita," tegas Ridwan Nau menutup pernyatannya.

​Kini, masyarakat Paceda hanya bisa berharap agar kebijakan yang diambil lebih berpihak pada kelestarian lingkungan daripada sekadar angka-angka investasi. Sungai Paceda butuh perlindungan, sekarang juga.