Ramadhan di tanah Moloku Kie Raha selalu datang dengan cara yang lembut. Ia tidak hanya hadir dalam hitungan kalender, tetapi terasa dalam hembusan angin laut, dalam lampu-lampu masjid yang menyala lebih lama dari biasanya, dalam suara azan yang menggema hingga ke sela-sela bukit dan pesisir.

Di antara azan dan angin laut itu, kita mendengar panggilan yang lebih dalam panggilan untuk kembali.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Hud ayat 3: agar manusia memohon ampun kepada-Nya dan bertaubat. Sebuah perintah yang sederhana, namun sering kali berat dijalani. Istighfar terdengar ringan di lisan, tetapi memerlukan kerendahan hati untuk benar-benar dihayati. Taubat mudah diucapkan, namun menuntut keberanian untuk berubah.

Di kampung-kampung kita, istighfar hidup dalam zikir bersama selepas tarawih. Ia menyatu dengan doa para orang tua yang memohon keselamatan bagi anak cucunya. Ia tumbuh dalam tradisi tahlil dan shalawat yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebuah napas panjang dari manhaj Nahdlatul Ulama yang menanamkan keseimbangan dan keteduhan dalam beragama.

Sebagaimana pesan yang diwariskan oleh KH. Hasyim Asy'ari, keselamatan umat terletak pada akhlak dan persatuan. Maka istighfar bukan hanya tentang dosa pribadi, tetapi juga tentang membersihkan hati dari prasangka, dari kebencian, dari keinginan untuk saling menjatuhkan.

Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam kita menunduk di hadapan Tuhan. Bukan tentang seberapa keras suara kita, tetapi seberapa jernih niat kita.

Di Maluku Utara, tanah yang dipeluk laut dan dijaga gunung-gunung tua, kita belajar satu hal yaitu kebesaran tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari ketenangan. Kekuatan tidak tumbuh dari kemarahan, tetapi dari kesabaran.

Barangkali inilah makna terdalam dari Q.S. Hud ayat 3—bahwa keberkahan hidup bukan semata hasil usaha lahiriah, tetapi buah dari hati yang terus kembali. Dari jiwa yang tidak lelah memohon ampun. Dari langkah yang bersedia mengakui salah dan memulai lagi.

Ramadhan akan berlalu. Lampu-lampu masjid akan kembali redup seperti biasa. Namun semoga istighfar tidak ikut padam. Semoga taubat tidak berhenti di ujung bulan.

Karena di antara azan dan angin laut, selalu ada jalan sunyi menuju perbaikan diri.

Coretan singkat dari pojok kepulauan tidore (Guraping)