SURABAYA - Sejarah mencatat bahwa sejak fajar Islam menyingsing, Ramadan bukanlah sekadar fase menahan lapar. Ia adalah bulan di mana pintu-pintu kemenangan langit diketuk dengan kesungguhan. Di bulan suci inilah, Perang Badar berkecamuk saat 313 pejuang terpilih menggentarkan ribuan pasukan Quraisy.
Spirit yang sama membawa Makkah kembali ke pelukan Islam tanpa tumpah darah. Bahkan, Sang Penakluk Konstantinopel, Muhammad al-Fatih, memerintahkan pasukannya untuk berpuasa tiga hari sebelum meruntuhkan tembok Bizantium. Al-Fatih sangat memahami bahwa jiwa yang ditempa lapar akan memiliki kekuatan yang melampaui ambisi duniawi.
Ramadan adalah panggung di mana manusia harus menaklukkan egonya sendiri sebelum mampu menumbangkan musuh di hadapannya.
Jejak Ramadan di Pegangsaan Timur
Loncatan sejarah itu rupanya menjalar hingga ke sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di kediaman Bung Karno, semangat Ramadan menyatu dengan denyut nadi proklamasi. Pagi itu, atmosfer rumah terasa begitu sakral. Seluruh penjuru dijaga ketat oleh para pemuda di bawah komando Shodanco Latief Hendraningrat.
Di balik layar, Mohammad Hatta memberikan instruksi krusial kepada B.M. Diah agar teks Proklamasi segera digandakan dan disebarluaskan ke seluruh penjuru bumi. Dunia harus tahu bahwa sebuah bangsa baru telah lahir.
Saat prosesi dimulai, sebuah kerendahan hati terekam sejarah. S.K. Trimurti menolak halus saat diminta mengibarkan bendera, ia lebih memilih prajurit yang melakukannya. Akhirnya, bendera hasil jahitan tangan Ibu Fatmawati itu dinaikkan oleh Latief Hendraningrat dan S. Suhud. Tanpa protokol yang kaku, tanpa pengeras suara yang megah, lagu Indonesia Raya membubung ke angkasa, dinyanyikan oleh jiwa-jiwa yang haus akan kebebasan.
Mengapa Harus Ramadan? Sebuah Isyarat Langit
Kemerdekaan ini bukanlah sebuah kebetulan matematis. Ada petunjuk spiritual dari ulama besar, Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, yang menyarankan agar Proklamasi dikumandangkan pada hari Jumat di bulan Ramadan.
Perpaduan antara Sayyidul Ayyam (Penghulu segala hari) dan Sayyidus Syuhur (Penghulu segala bulan) menjadi momentum keberkahan. Tepat pada 9 Ramadan 1364 H, sejarah Indonesia dimulai. Seperti Badar dan Konstantinopel, Ramadan sekali lagi menjadi saksi atas lahirnya martabat sebuah bangsa.
Benang Merah Kemenangan Jiwa
Pesan yang berhembus dari Madinah hingga Jakarta tetap sama: Puasa tidak pernah melemahkan fisik, ia justru memperkasa jiwa. Kemenangan sejati hanya akan menghampiri bangsa yang memiliki ketangguhan spiritual. Ramadan mengajarkan kita untuk menang melawan diri sendiri. Sebab, bangsa yang telah berhasil menguasai dirinya, tak akan pernah bisa ditundukkan oleh penjajah mana pun.
Inilah hikmah besar yang menghubungkan peristiwa Badar dengan 17 Agustus 1945. Kemenangan agung selalu berpihak pada mereka yang mengisi rasa laparnya dengan iman, dan membasuh dahaganya dengan tekad yang bulat.
Semoga Ramadan tahun ini mampu membangkitkan kembali keberanian dan kejernihan hati kita. Mari merdeka,dimulai dari memerdekakan diri sendiri dari belenggu nafsu. (Red/Mediasi Tikep)